Melihat dan Beriman

 

Dalam bacaan Minggu Prapaskah IV, Injil Yohanes menyampaikan kisah penyembuhan orang buta sejak lahir. Orang itu tidak meminta untuk dapat melihat, tetapi Yesus memberikan penyembuhan dengan meramu lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam. Ketika diminta menjelaskan, orang itu baru menyadari bahwa penolongnya adalah Yesus. Bacaan pertama dari juga menceritakan sosok Samuel yang dipandu Tuhan untuk mengenali pilihan-Nya sebagai pemimpin umat, yaitu Daud. Kedua kisah ini menunjukkan bahwa tuntunan ilahi dapat diterima setapak demi setapak menuju sebuah kebenaran.

Dalam Injil Yohanes, Yesus menolak anggapan bahwa cacat bawaan disebabkan oleh dosa. Ia menegaskan bahwa karya ilahi justru akan bisa terlihat dalam diri orang itu. Dalam kisah ini, Yesus sering kali memakai gagasan "terang" yang merujuk pada terang yang diciptakan pada hari pertama dalam karya penciptaan. Dengan menyebutkan dirinya sebagai terang, Yesus merupakan awal dari karya penciptaan dan melandasi kejadian selanjutnya sampai pada penciptaan manusia yang utuh. Dan si buta mengalami dinamika sembuh dari kebutaan menjadi pribadi yang mampu melihat karya Yesus melalui mata iman yang sehat.

Kisah ini meninggalkan pesan agar setiap orang mmenyadari tiap potensi untuk menerima tuntunan ilahi dan mengenali kebenaran. Meskipun terkadang kita mengalami cacat atau kesalahan, tetapi kita tidak perlu merasa berdosa atau merasa inferior. Sebagai ciptaan Tuhan, kita memiliki kemampuan untuk berubah dan menjadi lebih baik hingga mampu melihat indahnya karya ilahi atas hidup kita.

 

Fr. Virdi Mubin SCJ

 

WARTA PAROKI 

Paroki Santo Petrus Palembang

 

KEJUJURAN

(Mat 5:17-37)

Seseorang, apabila seusai ia mencuri, lalu ditanya dan ia menyangkal, itu berarti ia tidak jujur. Disebut tidak jujur karena apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Kita temukan dalam hidup bersama, terdapat begitu banyak pejabat yang terlibat dalam kasus ketidakjujuran berupa korupsi, kolusi dan nepotisme. Berita-berita bohong juga seringkali dimainkan untuk menjatuhkan pamor pihak tertentu. Tidak sedikit juga yang ingin mencari aman dengan berkata atau berlaku tidak jujur. Ada kasus lain juga berupa rekayasa bukti-bukti keuangan demi mencari nyaman atas kekeliruan, atau kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya.

“Jika ya hendaklah kamu katakan ya jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, sebab apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37). Tuhan Yesus ingin setiap anak-anak-Nya hidup dalam kebenaran dengan memiliki keutamaan kejujuran. Kejujuran berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatakan sesuatu yang benar. Benar dalam arti apa yang diungkapkan sesuai dengan realitas atau apa yang ada dalam realitas itulah yang diungkapkan melalui pernyataan. Tetapi, kita tahu, lingkup makna sabda itu tidak hanya sebatas pernyataan, tetapi meliputi segenap hidup kita. Artinya, lingkup kejujuran tidak sebatas kejujuran dalam kata. Ia meliputi hidup kita seutuhnya, dengan atau tanpa kata.

Jika kita jujur, kita akan mengakui talenta dan waktu yang ada pada kita, hingga kita rela melayani di bidang yang kita mampu. Jika kita jujur, kita berani mengakui keterbatasan diri. Jika kita jujur, kita mengakui bahwa yang baik adalah baik, yang jahat adalah jahat, siapa pun yang mengatakan atau melakukannya. Jika kita jujur, kita akan menakar hati kita, dan mengoreksinya jika itu harus. Jika kita jujur, kita akan berusaha memberlakukan apa pun yang kita tahu seharusnya berlaku. Demikianlah, kejujuran itu lebih dari sekadar soal pernyataan. Bersikap jujur adalah mengakui apa pun yang memang harus kita akui—dengan atau tanpa kata dan menindaklanjutinya dengan tindakan yang sesuai dengan pengakuan itu.

 

Rm. Sigit SCJ

 

Warta Paroki

"Memberi Rasa"

 

Hampir semua masakan menggunakan garam. Tanpa garam akan hambar. Tidak enak. Maka garam adalah bahan yang selalu tersedia disetiap rumah. Garam adalah senyawa kristalin NaCI yang merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air dan asin rasanya. Garam ditaburkan kedalam masakan dan bercampur dengan bahan makanan yang dimasak. Supaya merata percampurannya, maka diaduk-aduk, maka seluruh masakan menjadi enak dan berasa. Jadi, garam penting, bahkan salah satu bahan penentu rasa enak sebuah masakan.

Garam dan terang. Mengapa sih Tuhan menggunakan istilah garam dan terang? Banyak orang menyangka bahwa fungsi garam dan terang itu sama. Ya memang ada kesamaannya. Tetapi garam, memiliki fungsi yang cukup unik. Garam bisa memberi rasa asin tanpa terlihat. Lihat saja air laut dan air tawar (air biasa). Jika sama-sama dimasukkan ke dalam wadah seperti gelas, nyaris tidak akan ada bedanya. Garam hanya bisa terdeteksi jika dirasakan.

Seperti itulah gambaran anak Tuhan yang Tuhan inginkan. Menjadi anak Tuhan seperti garam, yang mengasinkan dengan larut di dalamnya. Garam tidak berfungsi maksimal ketika berkumpul dengan garam lainnya. Garam akan berfungsi maksimal ketika ia dilarutkan ke dalam benda lain. Garam akan berfungsi ketika dibubuhkan pada sayur yang hambar, sehingga rasanya menjadi lebih enak. Anak Tuhan pun demikian, ada kalanya kita harus menjadi seperti garam, yang tanpa banyak terlihat oleh tetapi kehadirannya dirasakan membawa berkat dimanapun kita berada. Gereja mungkin tidak harus terlihat megah, tetapi bermanfaat bagi orang lain. Ada hadirat dan atmosfer surgawi di sekeliling kita, yang membuat orang lain bisa merasakan kehadiran Tuhan.

 

Rm Sigit, SCJ

 

Warta Paroki

Santo Petrus Palembang

 

"BAHAGIA DALAM KESEDERHANAAN"

 

Seorang pemuda bertemu dengan teman-temannya. Dalam pembicaraan itu, ia dengan bangga memamerkan bahwa dia baru saja membeli helm terbaik. Sambil menunjukkan foto helmnya, ia menyebutkan harganya yang mahal. Banyak temannya yang memuji dia dan membuatnya merasa senang. Namun, ada satu temannya yang tiba tiba berkomentar singkat, “Katanya, di parkiran ini sering terjadi aksi maling helm lho. Beberapa waktu lalu, temanku kehilangan helm terbaiknya.” Mendengar komentar itu, sang pemuda itu tiba-tiba menjadi gelisah. Naasnya, ketika hendak pulang, helm kebanggaannya hilang. Sedihlah dia.

Pada hari ini, kita mendengarkan injil tentang Sabda Bahagia. Dalam sabda bahagia, Yesus menyampaikan bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, bukan mereka yang mengandalkan atau membanggakan kekayaan dan kekuatannya sendiri. Dalam kelemahan dan bahkan dalam keterbatasan, para murid justru diingatkan untuk semakin mengandalkan kekuatan Tuhan. Kesederhanaan hidup akan memberikan kebahagiaan dan membiarkan keagungan Tuhan semakin tampak.

Sebagai pengikut Kristus, seringkali kita jatuh dalam godaan untuk mengandalkan dan mengedepankan kekayaan dan  kekuatan material kita sendiri. Padahal, di lain sisi, kekayaan material bisa saja malah membuat kita gelisah dan cemas. Sabda Bahagia hari ini mengingatkan kita untuk semakin berani sederhana dan mengandalkan Tuhan dalam hidup kita

 

Rm. Marius, SCJ

 

 WARTA PAROKI
Santo Petrus Palembang

 

"KRISTUS ANAK DOMBA"

Bersaksi adalah hal penting ketika orang berurusan dengan pengadilan. Biasanya orang tertentu dijadikan saksi, baik saksi biasa maupun saksi ahli. Keterangan dan informasi para saksi demikian karena mereka melihat atau mendengar dan tahu tentang kasus tersebut. Para saksi diharapkan memberi kesaksian yang benar supaya kasus dalam persidangan dapat diselesaikan sehingga ada rasa keadilan dalam masyarakat.

Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini memberi tiga kesaksian penting tentang Yesus yang sedang berada di tengah-tengah kerumunan orang yang dibaptisnya. Pertama, Anak domba Allah: “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Anak domba mengingatkan kita pada anak domba Paskah (Kel 12:1-28) atau Hamba Yahwe (Yes 53:7). Anak domba adalah gambaran tentang ketaatan dan cinta kasih yang mencapai puncaknya di salib. Lalu Anak Domba juga menjadi simbol Hamba Allah yang menghapus dosa banyak orang. Kedua, Roh Kudus: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti burung merpati dan Ia tinggal di atas-Nya”. Ini adalah pengalaman rohani Yohanes Pembaptis ketika melihat Roh turun dan tinggal di atas Yesus. Roh turun dari tempat yang tinggi dan berdiam dalam Yesus. Ketiga, Yesus adalah Anak Allah. Kesaksian Yohanes ini adalah benar karena Yohanes sendiri dikarunia Roh Kudus untuk bersaksi tentang Yesus Anak Allah saat masih di kandungan ibunya. Kesaksian ini menjadi pusat dari pewartaan tentang identitas Yesus.

Melihat dan bersaksi tentang Yesus Kristus adalah panggilan sekaligus misi bagi para pengikut-Nya. Melihat Yesus berarti mencintaiNya. Bersaksi tentang Yesus dalam hidup menjadi sempurna ketika dari saat ke saat kita berusaha menjadi bagian dari-Nya yakni tinggal tetap bersama-Nya. Maka dari itu, jadilah saksi Kristus yang setia!

 

 

Rm. Sigit, SCJ

 

PENGORBANAN BERHARGA

 

Juminten memperhatikan temannya, Rusmini ketika jam istirahat sekolah yang duduk di depan kelas. Selama ini Juminten memperhatikan kalua Rusmini memang tidak pernah membawa bekal saat ke sekolah. Ia hadir dari keluarga tidak mampu. Dengan kepercayaan diri dan tanpa keraguan, Juminten mendekati temannya itu, membuka kotak bekal yang telah disiapkan ibunya dan kemudian memotong bolu menjadi dua. Sebagian ia berikan pada Rusmini dan yang lain untuk dirinya. Rusmini mengucapkan terima kasih pada Juminten dan mereka makan bolu bersama-sama. Sebuah pengorbanan kecil untuk Rusmini, temannya itu, meskipun ia berhak atas semua bolu yang dimiliki.

Sikap rela berkorban ini pula yang dilakukan Maria dan Yusuf. Untuk menjalankan rencana Allah Maria dan Yusuf harus mengorbankan banyak hal di dalam hidup mereka. Ketika Maria berani berkata kepada malaikat Tuhan: “jadilah padaku menurut perkataamu”, artinya Maria sudah siap berkorban. Ia siap diceraikan oleh Yusuf calon suami yang dicintainya dan siap dengan segala resikonya, yaitu dipermalukan, dihina dan dipandang sebagai wanita yang tidak benar dan bisa dilempari batu karena dianggap melakukan perzinahan (hamil di luar nikah). Begitu juga dengan Yusuf, ketika ia bersedia mengambil Maria sebagai istrinya. Ia harus mengorbankan perasaan, martabat, harga diri, tidak melakukan hubungan suami istri sampai ia melahirkan anaknya, dan harus membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Puji Tuhan, Maria dan Yusuf taat pada pimpinan Tuhan sehingga mereka berhasil dalam menjalankan rencana Allah.

Karya besar Allah melalui perngorbanan Maria dan Yusuf membuat semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Hal ini tercatat dalam Matius 1:21 “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Pada zaman ini, tentu pengorbanan kita tidak seperti Maria dan Yusuf, tapi sesuai dengan panggilan Tuhan terhadap diri kita. Mari kita peka terhadap rencana dan panggilan Allah dalam hidup kita. Kita harus yakin, jikalau Allah mau memakai kita maka Dia akan memanggil, memperlengkapi, dan disertai dengan janji penyertaanNya, sehingga kita berani berkorban dan dengan penuh damai dan sukacita menjalankan panggilan-Nya.

 

Rm Sigit SCJ

Style Selector

Layout Style

Predefined Colors

Background Image