"MELEPASKAN"

(Mat. 13:44-52)

Apakah yang paling kita inginkan di dalam kehidupan kita? Apa pun itu, kita akan mengorbankan hal lain yang telah kita miliki demi mendapatkan apa yang paling kita inginkan itu. Seorang yang menemukan harta terpendam pasti telah bekerja untuk menggali harta yang dia temukan itu. Demikian juga tentang Kerajaan Surga.

Hal yang sama diulangi Yesus melalui perumpamaan Kerajaan Surga digambarkan seperti orang yang mencari mutiara yang indah. Begitu besar keinginan akan mutiara itu, sehingga dia mengorbankan semua yang dimiliki untuk memperoleh mutiara itu. Perhatikan kalimat “Ia pun pergi menjual seluruh miliknya.” Ini merupakan ciri khas dari catatan Injil Matius tentang panggilan Yesus. Mau mengikut Dia? Kesenangan, gairah, sukacita, kegembiraan di dalam mengikuti Dia membuat kita rela meninggalkan segala sesuatu. Mengikut Yesus berarti meninggalkan kenyamanan tempat berbaring (Mat. 8:20), bahkan termasuk meninggalkan hak untuk berdukacita karena kehilangan seorang ayah (Mat. 8:21-22), meninggalkan relasi yang paling dekat sekalipun (Mat. 10:37) dan meninggalkan kecintaan terhadap hidup kita sendiri (Mat. 10:39).

Yesus teladan sejati hidup kita. Tuhan Yesus meninggalkan surga dan Bapa-Nya yang di surga. Dia rela kehilangan kemuliaan yang membuat semua makhluk sembah sujud pada-Nya dan memperoleh penghinaan serta aniaya di dunia ini. Yesus meninggalkan “harta surgawi”-Nya untuk memperoleh “harta duniawi”, yaitu umat pilihan Bapa-Nya. Dan terakhir, Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib! Dialah teladan sejati! Kita semua adalah pengikut Yesus. Sudahkah kita “menjual seluruh milik kita”? Sudahkah hati kita bebas dari keterikatan dunia yang melampaui kasih kita kepada Yesus? Jika kita masih mengasihi hal-hal lain lebih daripada mengasihi Yesus, mari renungkan kembali perumpamaan ini! Jika kita menemukan harta terpendam di dalam sebuah ladang, yang berkali-kali lipat nilainya dibandingkan dengan ladang itu, apakah kita rela korbankan untuk memperoleh ladang itu. Jika Kristus lebih besar dari segala sesuatu di dalam hidup kita, maka apa pun yang kita korbankan untuk Kristus sebenarnya tidak membuat kita rugi. Karena apa yang kita peroleh di dalam Dia jauh lebih besar daripada apa yang kita lepaskan.

 

Rm Sigit SCJ

 

 

“MENGOLAH DIRI

(Mat. 13:21-23)

 

Yesus mengajar banyak orang hari ini dengan menggunakan perumpamaan Kerajaan Allah seperti benih yang ditaburkan.  Benih ditaburkan pada empat jenis tanah: tanah di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah penuh semak duri dan tanah yang baik. Tanah di pinggir jalan amat keras sehingga benih tidak dapat bertumbuh, malah habis dimakan burung. Benih pada tanah berbatu-batu dan tanah penuh semak duri berperilaku serupa. Tumbuh sebentar, kemudian mati. Hanya benih di tanah yang baik yang bertumbuh, dan berbuah. Ada yang 100 kali lipat, 60 kali lipat dan 30 kali lipat.

Dikatakan “tanah yang baik” bukan karena tanah itu berkualitas sempurna. Hanya pada tanah itu tidak terdapat hal-hal yang berpotensi menggagalkan pertumbuhan tanaman. Tanah itu tidak keras, tidak penuh batu dan semak duri. Hati seumpama tanah, sedangkan benih ialah firman Tuhan. Agar firman Tuhan bertumbuh, dan berbuah, tidak harus kita memiliki kualitas hati sempurna (murni tanpa ada satu pun sifat dosa). Mustahil kita manusia berdosa memiliki kualitas hati sedemikian. Hanya kita perlu membersihkan hati dari hal-hal yang berpotensi menggagalkan pertumbuhan firman Tuhan.

Apa saja hal-hal itu? Pertama adalah kekerasan hati. Tidak boleh hati kita menjadi keras (tidak bersedia ditegur, diajar atau dinasihati). Sekiranya pada hari ini kita mendengar suara Tuhan, jangan keraskan hati (lih. Ibr. 3:15). Terima didikan firman Tuhan, lalu praktikkan dalam kehidupan sehari-hari! Selanjutnya adalah batu dan semak. Perlu kita membersihkan hati dari penghambat iman, seperti ketakutan, kecemasan, keraguan dan kebimbangan. Maka tentu firman Tuhan akan bertumbuh, dan berbuah. Semakin hari kita mendapati diri semakin serupa dengan Yesus.

 

Rm Sigit,SCJ

 

 "MENGENALI SANG GEMBALA YANG BAIK"

(Yoh. 10:0110)

Beberapa waktu lalu, ada seekor anjing kampung betina yang hamil datang ke komplek gereja kita dan akhirnya tinggal di sekitar gereja. Ternyata, anjing itu hamil dan kemudian melahirkan. Dengan rasa kasihan, akhirnya, induk anjing itu dan anak-anaknya dipelihara. Pada awalnya, anjing itu sulit dijinakkan dan galaknya setengah mati. Namun, setelah beberap waktu dirawat dan diasuh, induk dan anak-anak anjing itu menjadi jinak dan malah setia menjadi penjaga gereja kita. Sangat khas, anjing itu akan menggonggongi orang asing yang masuk kompleks gereja. Namun, ketika ada keluarga pasturan, anjing itu menjadi sangat jinak bahkan sudah mengenali suara klakson mobil pasturan. Maka, ketika dipanggil namanya, mereka akan mendekat dan bersukacita dengan mengobat-abitkan ekornya. Dari penggalan kisah ini, kita belajar bahwa pengenalan itu merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk termasuk kita, manusia. Seseorang merasa aman dan nyaman, ketika sudah saling kenal maka ia tidak akan segan segan untuk percaya dengan sepenuh hati.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengarkan bahwa gembala yang baik mengenal domba-domba dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal. Semoga kita sebagai sebagai umat Allah, semakin mampu menjadi domba yang mengenali suara Sang Gembala Baik dan mengikutiNya. Berkah Dalem.  

 

Rm Marius Ari SCJ

 

KEDAMAIAN SEJATI

 

Hari ini, kita mau berbicara tentang kedamaian. Wah, siapa yang tidak mau merasakan kedamaian? Kita semua mencari-cari yang namanya damai. Kalau bisa kita semua inginnya hidup damai, bahkan mati pun nantinya pasti inginnya dalam damai (rest in peace) kan. Kapa dan saat apa kita merasa hidup kita ini damai sejahtera? Awal bulan gajian? Damai berarti tidak ada orang yang mikir jelek tentang diri kita, tidak ada yang gosipin? Damai berarti keluarga gak pernah ribut? Tapi, kalau memang pengertian damai kita hanya sebatas itu, hati-hati. Akhir bulan, pas ada yang gosipin, pas lagi ribut-ribut, pas lagi kecewa, pas lagi takut, berarti damainya hilang. Bukan kedamaian semu seperti itu yang kita cari tetapi kedamaian sejati.

Kehilangan damai di hati, itulah latar belakang kisah di antara para murid Tuhan setelah Yesus ditangkap dan dihukum mati. Bagaimana tidak hilang damainya, bila apa yang mereka harapkan dari Yesus dahulu sebagai raja Israel, tapi malah mati disalib. Sekarang ditambah persoalan mereka dikejar-kejar orang Yahudi. Mereka mendengar Yesus telah bangkit tapi mereka belum percaya dengan berita tersebut dan itu yang membuat mereka tetap saja takut. Takut kalau dituduh mencuri mayat Yesus, takut kalau semakin dikejar dan dicari oleh orang-orang Yahudi. Dan hilanglah rasa damai di hati mereka. Dalam kecemasan Yesus datang di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Kedamaian sejati hanya ada di dalam Tuhan. Kita memang membutuhkan jaminan untuk kehdiupan kita di dunia tapi ini sifatnya sementara. Tak ada yang abadi dari setiap yang kita andalkan entah harta, jabatan, relasi, kekayaan dan benda-benda duniawi. Mari kita senantiasa bersandar pada Tuhan, sumber kedamaian yang tak pernah surut dan tak pernah hilang.

Rm Sigit SCJ

 

 

 MENJADI RASUL KEBANGKITAN

HALELLUYA !!

 

Selamat Paskah! Pada perayaan penting iman kita ini, kita menemukan kisah yang penuh makna tentang Maria Magdalena yang pergi ke makam Yesus dan menemukan bahwa batu telah digulingkan. Makam itu kosong. Makam kosong itu menjadi saksi kebangkitan Kristus, yang merupakan momen yang paling penting dalam sejarah manusia. Kemenangan Kristus atas maut memberikan harapan bagi umat manusia untuk hidup yang abadi di sisi Allah. Maria Magdalena dipilih oleh Kristus untuk menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya, menunjukkan betapa pentingnya perempuan dalam gereja purba. Dalam konteks zaman itu, perempuan tidak dianggap penting dalam masyarakat dan agama, namun Kristus mengangkat martabat mereka dan memberi tanggung jawab penting di antara para rasul Kristus menunjukkan bahwa penghakiman sudah dimulai dan kehidupan yang abadi sudah tersedia bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Ini merupakan sumber harapan yang besar bagi kita sebagai umat Kristiani.

Kematian dan dosa tidak lagi memegang kekuasaan atas kita. Kami memiliki akses kehidupan yang abadi di sisi Allah jika kita percaya kepada-Nya. Dalam kisah ini, kita juga melihat bagaimana para murid masih ragu tentang kebangkitan Kristus, namun mereka akhirnya percaya setelah melihat makam yang kosong. Ini menunjukkan betapa sulitnya untuk mempercayai sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya. Namun, dengan iman dan keyakinan, kita dapat memperoleh kebenaran dan harapan yang abadi. Oleh karena itu, sebagai umat Kristiani, kita harus selalu mengingat bahwa Kristus memberikan peran bagi semua kaum beriman untuk menjadi saksi kebangkitan, saksi kegembiraan bahwa di dalam Dia ada harapan. Kita juga harus terus berjuang untuk memperoleh iman dan keyakinan yang kuat agar dapat hidup dalam kebenaran dan harapan yang abadi.    

 

Fr Virdi Mubin, SCJ

 

Sebuah Ketulusan Iman

Kisah pembangkitan Lazarus dalam Injil Minggu Prapaskah V tahun A dapat memberikan pengertian tentang siapa Yesus yang akan dirayakan pada hari Paskah. Dalam kisah ini, kita bisa belajar tentang iman dan ketulusannya. Iman itu perlahan tumbuh dan bergantung pada banyak hal tak terduga. Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa Tuhan yang Mahakuasa tetap dapat dan bersedia berbagi nafas kehidupan dengan umat-Nya. Namun, iman ini hanya terjadi bila diterima dengan tulus.

Dalam kisah ini, Yesus menunggu dua hari di seberang Yordan setelah mendengar berita mengenai sakitnya Lazarus. Mungkin ada yang bertanya, mengapa Yesus sengaja menunggu? Apakah untuk membiarkan Lazarus mati dulu agar Yesus bisa bermukjizat? Namun, jawabannya tidak seperti itu. Yesus menunggu saat yang tepat baginya. Ketika Yesus mendengar berita sakit Lazarus, dia menunggu hingga saat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang tepat. Kita juga dapat melihat bahwa iman Marta, saudara dari Lazarus, sangat kuat dalam kisah ini. Ketika dia mendengar bahwa Yesus datang, Marta pergi menyongsong-Nya. Dia percaya bahwa jika Yesus ada di sana ketika Lazarus sakit, maka Lazarus pasti tidak akan mati. Marta memperlihatkan betapa pentingnya memiliki iman yang kuat dalam menghadapi kesulitan hidup.

Dalam kisah pembangkitan Lazarus, kita juga dapat melihat bahwa Tuhan dapat memberikan kehidupan pada yang mati. Lazarus yang telah mati selama empat hari berhasil dibangkitkan oleh Yesus. Dalam pengalaman batin nabi Yehezkiel, kita dapat melihat bahwa Tuhan kehidupan dapat memberikan kehidupan pada orang-orang yang telah mati, baik secara rohani maupun fisik. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan pentingnya iman dalam hidup kita. Meskipun hidup kita penuh dengan kesulitan dan kegagalan, iman yang kuat pada Tuhan yang Mahakuasa dapat membantu kita melewati semua itu dan memberikan harapan bahwa Tuhan dapat memberikan kehidupan pada yang mati.

 

Fr Virdi Mubin SCJ

Style Selector

Layout Style

Predefined Colors

Background Image