“MENGASIHI”

(Mat. 22:34-40)

 

Mengikuti Kristus dan kasih tak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan. Tidak ada kemuridan tanpa kasih; kasih itu juga harus menjadi bagian kehidupan orang Kristiani. Jika ada murid Kristus yang tidak punya kasih, sia-sialah kemuridannya.

Mengapa kasih sangat penting bagi kita sebagai orang percaya? Karena kasih itu adalah suatu perintah yang harus kita taati, bukan suatu himbauan atau sekedar saran. Tuhan Yesus menegaskan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (ayat 37, 38). Kata kasihilah menunjuk pada suatu perintah. Karena ini suatu perintah, kita harus menaatinya. Melanggarnya sama dengan berbuat dosa. Jadi, kasih adalah pilihan hidup yang harus kita ambil. Sering kali kita mengasihi seseorang hanya apabila orang itu juga mengasihi atau memberi keuntungan kepada kita. Sebaliknya, orang yang tidak mengasihi atau memberi kontribusi positif pada kita tidak kita anggap sebagai orang yang perlu dikasihi.

 Sering kali bukan kasih yang meninggalkan kita, tetapi kitalah yang meninggalkan kasih itu. Bukti kalau ada kasih di dalam kita adalah kalau kita mengasihi Tuhan dan juga sesama. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi bukti mengasihi orang lain tidak ada, berarti kita belum sampai kepada kasih kepada Tuhan. Ada berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia dan juga sesama. Jadi, setiap orang yang berlabel Kristiani dan mengaku murid Kristus, harus punya kasih.

Halangan-halangan nikah pada khususnya: Halangan beda agama Kanon 1086.

Perkawinan antara dua orang, yang di antaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah. Dari halangan itu janganlah diberikan dispensasi, kecuali telah dipenuhi syarat-syarat sesuai ketentuan hukum. Jika satu pihak pada waktu menikah oleh umum dianggap sebagai sudah dibaptis atau baptisnya diragukan, sesuai norma Kan. 1060 haruslah diandaikan sahnya perkawinan, sampai terbukti dengan pasti bahwa satu pihak telah dibaptis, sedangkan pihak yang lain tidak dibaptis.

 

Rm Sigit SCJ

 

Mempertanggungjawabkan

kepercayaan

 

Dunia diciptakan bukan hanya untuk dimiliki segelintir orang saja, tetapi untuk semua ciptaan yang ada di dalamnya. Sudah sepantasnya bila semua hidup berdampingan sebagai saudara. Pada kenyataannya, persaudaraan tidak sellau dapat terwujud dengan baik. Sampai hari ini masih perlu diusahakan dan diperjuangkan.

Sejak manusia pertama hidup, mereka sudah jatuh ke dalam dosa. Ia mulai melihat sesama sebagai saingan, dan bukan sebagai saudara. Dengan cara demikian, hidup bersama menjadi seperti neraka, penuh konflik, sirik dan intrik. Perilaku demikian digambarkan oleh Yesus lewat perumpamaan pemilik kebun anggur yang menyerahkan dan mempercayakan kebunnya ke tangan penyewa. Namun, si penyewa tidak ingin berbagi hasil panenan, membunuh setiap utusan dan putera pemilik kebun.

Perumpamaan itu dimaksudkan untuk para pemimpin Yahudi saat itu. Namun, hal ini juga masih relevan untuk kita saat ini. Kita harus menyadari bahwa tugas dan jabatan merupakan  kepercayaan dari Tuhan. Bahkan, kehidupan yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan yang patut kita pertanggungjawabkan kepada-Nya. Apakah hidup saya sungguh berbuah bagi Tuhan, ataukah hanya untuk dinikmati sendiri? Apakah saya setiap hari mempertanggungjawabkan hidup dan jabatan saya pada Tuhan? Apakah saya menerima kehadiran Yesus, Putera Allah dengan terbuka untuk senantiasa mengingatkan misi yang Tuhan berikan pada saya ?

 

Rm Sigit SCJ

 

GOD IS SO GOOD

 (Mat 21:28-32)

Sahabat, coba rasa-rasakan bagaimana sang ayah mengungkapkan keinginannya kepada anak-anaknya dalam bacaan Injil hari ini. Kepada mereka ayah itu berkata, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!” Rasaakan... tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan dalam ungkapan ini. Yang ada adalah tawaran tulus seorang ayah kepada anaknya. Sapaan yang penuh kasih sayang.

Tawaran untuk pergi dan bekerja di kebun anggur “hari ini” mengingatkan kita pada permintaan kita kepada Bapa dalam doa Bapa Kami: “Berilah kami rezeki hari ini”. Permintaan inilah yang ditawarkan oleh Tuhan dengan lembut tanpa mengikat dan tanpa memberi syarat tertentu. Karena ini adalah tawaran, maka bisa diambil atau ditolak, bahkan boleh diremehkan dan dianggap tidak penting. Bagi mereka yang tidak mau dan menolak tetapi kemudian berubah sikap, tawaran itu tetap berlaku.

Pesannya jelas, perumpamaan ini memaklumkan kemurahan hati Allah yang ditawarkan kepada siapa saja yang datang. Akan tetapi, kemurahan hati itu tidak selalu diterima dengan serentak. Satu anak menerimanya sedangkan yang lain merasa tidak membutuhkannya. Bagi pembaca di zaman ini, kita diminta untuk berpikir soal “kedudukan – keberadaan” kita saat ini dan ajakan untuk berani berubah seperti yang ditunjukkan oleh anak kedua.

FR HANES SCJ

 

 TUHAN BUKAN MESIN ATM 

(Mat. 15:21-28)

 

Perempuan Kanaan itu sebenarnya tak layak mendapat keselamatan dari Tuhan. Ia sama sekali tak dianggap bahkan direndahkan oleh Tuhan. Terhadap permohonannya, Tuhan tampaknya hanya diam, menolaknya, dan bahkan menyamakan perempuan itu dengan anjing. Pada waktu itu, anjing bukanlah hewan kesayangan seperti layaknya sekarang. Pada waktu itu, anjing dipandang sebagai hewan yang najis.

Bagaimana kalau Anda dipermalukan dan direndahkan seperti itu? Betapa malunya ia dilihat oleh banyak orang ketika ia direndahkan oleh Tuhan. Tapi, perempuan Kanaan itu tak pernah menghiraukannya. Ia mengalahkan rasa malunya sendiri demi keselamatan anaknya yang sedang sakit. Ia tak pernah menyerah memohon kepada Tuhan. Di akhir kisah, ia dipuji oleh Tuhan karena imannya yang besar (Mat 15:28).

Pada Minggu ini kita bisa belajar tentang komitmen doa. Saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat gambaran Tuhan macam apa yang kita imani. Cukup banyak umat yang saya rasa masih memahami Tuhan seperti “Mesin ATM” yang tinggal pencet dan langsung keluar uang yang kita inginkan. Alhasil ketika permohonan tidak dikabulkan, orang mudah menjadi kecewa, bahkan kehilangan iman dan kepercayaan kepada Tuhan.

Iman (pistis: Yunani) berarti berserah. Dan kita tahu, dalam Kitab Suci ada begitu banyak peristiwa kesembuhan terjadi ketika orang beriman – berserah kepada Yesus. Akan tetapi, pistis tidak hanya bermakna pasrah. Pistis selalu berada dalam relasi. Maka, ketika kita berdoa, pertanyaannya bukan soal doaku dikabulkan atau tidak, tetapi apakah relasiku dengan Tuhan semakin dalam dan matang atau tidak? Kalau permohonan kita seperti tidak didengar dan dikabulkan oleh Tuhan, mungkin kita bisa bertanya, bagaimana pengalaman ini menambah imanku? Apakah memperdalam relasiku dengan Bapa yang menjadikan semuanya baik pada waktunya? Seperti relasi kita dengan orang tua kita, relasi kita sebagai anak dengan Bapa, kadang juga harus berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Maka ketika bicara tentang komitmen doa, kita belajar untuk menjadi dewasa dalam iman.

 

Fr. Hanes Ferry, SCJ

 

Porseni Santo Petrus Palembang 

“Mengokohkan Nasionalisme dan Kebersamaan Melalui Lomba Futsal dan Voli”

 

Dalam semangat kesatuan dan kebersamaan, komunitas Gereja Katolik Santo Petrus Palembang telah mengadakan acara bersejarah, yakni Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), yang secara khusus dirancang untuk mempererat rasa nasionalisme serta memupuk ikatan persaudaraan yang erat di antara para umat. Acara yang diadakan dengan penuh dedikasi ini mengangkat dua lomba olahraga yang sedang berlanggsung, yaitu futsal dan voli, sebagai wadah nyata dalam membawa pesan dan makna yang mendalam.

PORSENI Santo Petrus Palembang bukanlah sekadar perayaan, melainkan juga refleksi dari tekad dan cinta terhadap tanah air. Olahraga, sebagai bahasa universal yang melampaui batas-batas budaya dan identitas, menjelma menjadi sarana yang sempurna untuk merayakan keberagaman serta memperkokoh rasa cinta terhadap bangsa. Oleh karena itu, PORSENI tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga panggung penting untuk mempererat ikatan antara sesama umat gereja serta membangun kebersamaan yang mengakar kuat.

Dalam konteks PORSENI, peran lomba futsal tak terhingga. Selain sebagai ajang kompetisi yang sengit, turnamen futsal membawa makna lebih dalam tentang kerjasama dan persatuan. Di balik atmosfer persaingan yang menghangat, tim-tim yang bertanding sebenarnya sedang merangkul spirit kerja sama dan persaudaraan yang begitu esensial. Futsal, dalam konteks ini, menjadi simbol nyata tentang bagaimana sebuah kelompok bisa bersatu dalam mencapai tujuan bersama, tidak hanya meraih kemenangan, tetapi juga membangun fondasi persatuan yang semakin solid.

Tak kalah pentingnya adalah lomba voli, yang membawa makna tentang solidaritas dan kekompakan. Dalam lomba voli, setiap langkah dan gerakan tim memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar angka-angka di papan skor. Kerja sama yang terbangun di antara para pemain, taktik yang disusun secara bersama, dan kecepatan dalam mengambil keputusan, semuanya menggambarkan betapa pentingnya bergandengan tangan dalam mencapai sukses. Oleh karena itu, lomba voli dalam PORSENI Santo Petrus Palembang bukanlah hanya tentang siapa yang meraih piala, melainkan tentang bagaimana setiap anggota tim mengabdi pada semangat persaudaraan dan kebersamaan.

Dengan mengadakan Porseni Santo Petrus Palembang, komunitas Gereja Katolik Santo Petrus telah membuka jalan menuju pelukan nasionalisme yang kokoh dan mempererat simpul persaudaraan yang erat. Melalui lomba futsal dan voli, relasi antar anggota gereja menjadi semakin dalam, dan semangat kebersamaan yang tercermin dalam acara ini diharapkan akan terus tumbuh. Dengan menggabungkan semangat persaingan yang sehat dan nilai-nilai persaudaraan yang mendalam, Porseni ini memiliki potensi untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi peserta, serta memberikan dampak positif yang luar biasa pada seluruh komunitas gereja dan masyarakat luas.

 

TURUN DARI GUNUNG 

(Mat. 17:01-09)

 

Dimana ada kemuliaan Tuhan, di sana ada sukacita! Inilah keyakinan kita sebagai orang beriman. Ini pula yang dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes di atas Gunung Tabor. Sebuah kisah yang amat menakjubkan, di mana mata manusia yang penuh dosa ini diizinkan Tuhan untuk meyaksikan kemuliaan-Nya dengan seluruh kekudusan-Nya. Berhadapan dengan keagungan itu, Petrus hanya mampu mengatakan, “Betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (Mat 17:4). Sukacita yang mereka rasakan di Gunung Tabor itu membuat mereka tidak lagi memikirkan masa lalu dan masa depan mereka. Yang mereka inginkan adalah masa sekarang; tinggal bersama Yesus dan memandang-Nya setiap saat.

Apakah Yesus mengabulkan keinginan mereka? Yesus tidak mau para murid hanya berhenti pada pengalaman keterpesonaan itu. Yesus justru mengajak mereka "turun gunung". Ini mau mengatakan bahwa para murid harus kembali pada kehidupan nyata yang kadang terasa begitu keras dan kejam.

Setiap dari kita pasti memiliki pengalaman “Gunung Tabor”; suatu pengalaman di mana diri kita merasa begitu dekat dan  bahagia bersama dengan Tuhan. Mungkin pengalaman itu singkat tetapi mengakar kuat dalam hati kita. Tuhan mengajak kita hari ini untuk tidak berpuas diri dengan pengalaman keterpesonaan itu. Seperti para murid, Yesus mengajak kita untuk bernai “turun gunung”. Kehidupan yang kadang membuat kita harus berhati-hati dalam berkata-kata dan bertindak. Kita berharap bahwa pengalaman keterpesonaan itu memberi kekuatan saat kita menjalani hidup yang biasa-biasa saja – saat kita menjalankan tugas sehari-hari – bahkan saat kita menghadapi kesulitan-kesulitan dan penderitaan. Jangan takut untuk “turun gunung” sebab Tuhan sayang padamu.

 

Fr. Hanes Ferry, SCJ

Style Selector

Layout Style

Predefined Colors

Background Image