WARTA PAROKI - 5 Agustus 2023

 

TURUN DARI GUNUNG 

(Mat. 17:01-09)

 

Dimana ada kemuliaan Tuhan, di sana ada sukacita! Inilah keyakinan kita sebagai orang beriman. Ini pula yang dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes di atas Gunung Tabor. Sebuah kisah yang amat menakjubkan, di mana mata manusia yang penuh dosa ini diizinkan Tuhan untuk meyaksikan kemuliaan-Nya dengan seluruh kekudusan-Nya. Berhadapan dengan keagungan itu, Petrus hanya mampu mengatakan, “Betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (Mat 17:4). Sukacita yang mereka rasakan di Gunung Tabor itu membuat mereka tidak lagi memikirkan masa lalu dan masa depan mereka. Yang mereka inginkan adalah masa sekarang; tinggal bersama Yesus dan memandang-Nya setiap saat.

Apakah Yesus mengabulkan keinginan mereka? Yesus tidak mau para murid hanya berhenti pada pengalaman keterpesonaan itu. Yesus justru mengajak mereka "turun gunung". Ini mau mengatakan bahwa para murid harus kembali pada kehidupan nyata yang kadang terasa begitu keras dan kejam.

Setiap dari kita pasti memiliki pengalaman “Gunung Tabor”; suatu pengalaman di mana diri kita merasa begitu dekat dan  bahagia bersama dengan Tuhan. Mungkin pengalaman itu singkat tetapi mengakar kuat dalam hati kita. Tuhan mengajak kita hari ini untuk tidak berpuas diri dengan pengalaman keterpesonaan itu. Seperti para murid, Yesus mengajak kita untuk bernai “turun gunung”. Kehidupan yang kadang membuat kita harus berhati-hati dalam berkata-kata dan bertindak. Kita berharap bahwa pengalaman keterpesonaan itu memberi kekuatan saat kita menjalani hidup yang biasa-biasa saja – saat kita menjalankan tugas sehari-hari – bahkan saat kita menghadapi kesulitan-kesulitan dan penderitaan. Jangan takut untuk “turun gunung” sebab Tuhan sayang padamu.

 

Fr. Hanes Ferry, SCJ