WARTA PAROKI

 

PENGORBANAN BERHARGA

 

Juminten memperhatikan temannya, Rusmini ketika jam istirahat sekolah yang duduk di depan kelas. Selama ini Juminten memperhatikan kalua Rusmini memang tidak pernah membawa bekal saat ke sekolah. Ia hadir dari keluarga tidak mampu. Dengan kepercayaan diri dan tanpa keraguan, Juminten mendekati temannya itu, membuka kotak bekal yang telah disiapkan ibunya dan kemudian memotong bolu menjadi dua. Sebagian ia berikan pada Rusmini dan yang lain untuk dirinya. Rusmini mengucapkan terima kasih pada Juminten dan mereka makan bolu bersama-sama. Sebuah pengorbanan kecil untuk Rusmini, temannya itu, meskipun ia berhak atas semua bolu yang dimiliki.

Sikap rela berkorban ini pula yang dilakukan Maria dan Yusuf. Untuk menjalankan rencana Allah Maria dan Yusuf harus mengorbankan banyak hal di dalam hidup mereka. Ketika Maria berani berkata kepada malaikat Tuhan: “jadilah padaku menurut perkataamu”, artinya Maria sudah siap berkorban. Ia siap diceraikan oleh Yusuf calon suami yang dicintainya dan siap dengan segala resikonya, yaitu dipermalukan, dihina dan dipandang sebagai wanita yang tidak benar dan bisa dilempari batu karena dianggap melakukan perzinahan (hamil di luar nikah). Begitu juga dengan Yusuf, ketika ia bersedia mengambil Maria sebagai istrinya. Ia harus mengorbankan perasaan, martabat, harga diri, tidak melakukan hubungan suami istri sampai ia melahirkan anaknya, dan harus membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Puji Tuhan, Maria dan Yusuf taat pada pimpinan Tuhan sehingga mereka berhasil dalam menjalankan rencana Allah.

Karya besar Allah melalui perngorbanan Maria dan Yusuf membuat semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Hal ini tercatat dalam Matius 1:21 “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Pada zaman ini, tentu pengorbanan kita tidak seperti Maria dan Yusuf, tapi sesuai dengan panggilan Tuhan terhadap diri kita. Mari kita peka terhadap rencana dan panggilan Allah dalam hidup kita. Kita harus yakin, jikalau Allah mau memakai kita maka Dia akan memanggil, memperlengkapi, dan disertai dengan janji penyertaanNya, sehingga kita berani berkorban dan dengan penuh damai dan sukacita menjalankan panggilan-Nya.

 

Rm Sigit SCJ